Selasa, 17 Desember 2019

SANTUNAN YATIM PADA BULAN RAMADHAN, PENTINGKAH?

          Maraknya santunan yatim pada bulan Ramadhan, menggelitik rasa ingin tahu penulis tentang hal-hal yang terjadi dibalik santunan tersebut. Sebenarnya seberapa pentingkah penyelenggaraan santunan yatim pada bulan Ramadhan. Mengapa berbagai pihak seolah berlomba-lomba mengadakan santunan yatim di tempat mereka. Baik di rumah, kantor, masjid, perusahaan, restoran, sekolahan, kampus, komunitas, para alumni dari segala jenjang sekolah dan perguruan tinggi. Mengapa di luar bulan ramadhan, santunan yatim tidak semeriah pada bulan Ramadhan.

          Dalam Islam, anak yatim memiliki tempat yang sangat istimewa. Tidak kurang dari 22 ayat membahas tentang anak yatim dalam Al-Qur’an. Dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 177, “Berbuat baik dan menyantuni anak yatim merupakan amalan yang paling utama dan paling suci.” Surat lainnya yaitu QS Al-Insan: 8-22 mengungkapkan, “Perbuatan menyantuni anak yatim akan mendapat surga.” Sedangkan pada QS. Al-Maun: 1-2, berfirman Allah SWT, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.'' Ditegaskan pula dalam QS. Ad-Dhuha: 9, “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” Ancaman telah jelas sekali diberikan pada orang-orang yang tidak berbuat baik pada anak yatim. Ayat lain yang juga memberikan keterangan tentang anak yatim yaitu QS. An'am:152, QS. Al-Isra:34, QS. Al-Fajr: 17, QS. Ad-Dhuha: 6 dan 9, QS. Al-Maun: 2, QS. Al-Insan: 8, QS. Al-Balad: 15, QS. Al-Kahfi: 82, QS. Al-Baqarah: 83, 215, dan 220,QS. An-Nisa': 2,3,6,8,10,36 dan 127, QS. Al-Anfal: 41, dan QS. Al-Hasyr: 7. Tidak hanya Al-Quran saja yang banyak memberikan pembahasan tentang anak yatim. Dalam HR Bukhari dan Muslim, apabila kita tidak menyantuni anak yatim maka kita akan mendapat dosa besar dan masuk neraka. Begitu besarnya keutamaan serta pahala bagi orang yang menyantuni anak yatim sampai-sampai imam Al-Bukhari rahimahullah  mencantumkan dalam bab: Keutamaan Orang yang Mengasuh Anak Yatim. Berikut kutipan haditsnya:

عَنْ سَهْلِ بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]. Sungguh demikian besar perhatian yang diberikan Islam pada anak yatim.
          Jika di atas terungkap ayat-ayat serta hadits keutamaan menyantuni anak yatim, maka berikutnya akan kita gali keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan. Sedekah itu sendiri merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan dan disukai Allah SWT. “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yag di bawah adalah orang yang meminta.”(HR. Bukhari no. 1429, Muslim no. 1033). Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah. Hadits-hadits tersebut mengenai keutamaan bersedekah diantaranya: sedekah dapat menghapus dosa, orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir, sedekah memberi keberkahan pada harta, Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, terdapat pintu surge yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah, sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang, sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur, sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli, orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia, pahala sedekah terus berkembang, sedekah menjauhkan diri dari api neraka, bahkan kita boleh iri kepada orang yang gemar bersedekah. Luar biasa keutamaan bersedekah saja seperti itu. Bagaimana lagi bila sedekahnya dilakukan pada bulan Ramadhan? “Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.'” (HR. Muslim no.1151). Kemudian berdasarkan QS. Al-A’raf: 16 khusus amalan sedekah dilipatgandakan lagi sesuai kehendak Allah SWT. Lalu ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan bersedekah. Berlipat-lipat besarnya, berkali-kali keuntungannya sampai tak ada yang dapat menghitungnya selain Allah SWT.
          Setelah mengetahui keutamaan menyantuni anak yatim, keutamaan sedekah, sedekah padabulan romadhon wajar saja bila banyak orang yang berlomba-lomba bersedekah atau menyantuni anak yatim pada bulan romadhon. Masya Allah bila itu semua dilakukan dengan penuh keikhlasan Insya Allah balasannya adalah surganya A apaanllah subhanahu wa ta'ala.
Namun, dibalik segala kesemarakan itu, ada hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh para dermawan dan panitia penyelenggara santunan yatim. ini terjadi mungkin bukan karena kesengajaan namun semata ketidaktahuan mereka disebabkan oleh kondisi mereka yang tidak mengalami seperti yang dialami para anak yatim yang menjadi tamu undangan. sesungguhnya ada beberapa kendala yang dialami para anak yatim adalah pertama adalah jarak tempuh menuju ke tempat santunan. Memang umumnya santunan diberikan kepada para yatim di sekitar tempat santunan. Namun tidak jarang yang jauh-jauh pun mengundang yatim dari daerah yang jauh. Bila kita coba renungkan, mereka itu yatim, apalagi bila statusnya juga dhuafa, perjalanan jauh mungkin tidak ada ongkos. Haruskah mereka berhutang dulu untuk ongkos datang ke tempat santunan? Hutang akan dibayar dengan uang yang didapat dari acara santunan yang didatanginya? Atau bila dekat pun, banyak masjid-masjid yang lokasinya jauh ke dalam. Meskipun termasuk masjid besar namun tidak ada angkutan umum yang sampai kesana. Mau tidak mau, para yatim harus jalan jauh ataupun naik ojek. Iya  jika yang diundang satu atau dua anak beserta ibunya. Kalau sampai tiga orang anak atau lebih, masa iya harus naik beberapa ojek. Berapa biaya yang harus dikeluarkan?
          Biasanya pada bulan ramadhan, santunan diselenggarakan setelah shalat Ashar berjamaah dan berbuka puasa di sana. Bagi yang sudah berusia tujuh tahun ke atas mungkin tidak terlalu bermasalah. Kasihan yang masih balita. Penulis beberapa kali melihat yatim-yatim cilik menangis karena bosan, letih, kegerahan disebabkan oleh rangkaian acara yang terlalu lama dan berhimpitan duduknya. Setelah itu, mereka masih harus berdiri berdesakan untuk antri mengambil paket santunan. Belum selesai sampai situ. Pikirkan bagaimana mereka pulang ke rumah. Pulangnya malam hari masih harus membawa paket santunan yang berat. Untuk anak-anak yang agak besar sudah bisa bawa masing-masing. Yang masih kecil terutama balita, ibu atau nenek mereka pastilah yang membawakan beberapa paket santunan. Bayangkan beratnya bawa beberapa gembol paket sembako ditambah kondisi jalanan yang gelap tentunya membahayakan keselamatan anak-anak yatim dan ibu atau nenek mereka. Kondisi mereka pun dalam keadaan capek setelah seharian berpuasa. 
          Apakah ini yang disebut memuliakan anak yatim? Rasulullah SAW pun akan bersedih bila tahu hal ini. Kiranya perlu dipertimbangkan lagi tata cara penyelenggaraan santunan yatim terutama yang diadakan pada bulan Ramadhan, agar mendapatkan sebesar-besar keberkahan. Bijaklah menggelar acara yang tujuannya mencari keberkahan dibalik kebahagiaan para yatim. Aturlah waktunya agar tidak terlalu lama, sehingga mereka tidak terlalu lelah dan sampai ke rumah sebelum gelap. Kita tahu dalam QS Al Falaq disebutkan tentang kejahatan malam. Ditambah mereka tidak memiliki sosok ayah yang dapat melindungi saat berjalan atau berkendara di malam hari. Buatlah rencana pembagian yang baik sehingga mereka tidak harus antri berdesak-desakan.
          Buya Yahya, seorang ulama yang merupakan pembina pondok pesantren Al Bahjah, Cirebon, malah mengatakan akan lebih baik bila santunan yatim diantar langsung ke rumah para penerima santunan. Justru itulah yang disebut memuliakan anak yatim. Ya benar, seyogyanya kita memuliakan mereka bukan justru menyusahkan. Selayaknya kita menyantuni bukan membebani. Sepatutnya kita tulus mengasihi bukan untuk sensasi. Semoga rahmat Allah dicurahkan sederas-derasnya bagi hamba-hamba-Nya yang giat mencari cara menyenangkan Allah dengan menghidangkan kebahagiaan bagi para yatim yang memiliki keistimewaan di mata Allah SWT serta Rasulullah SAW.

REFERENSI










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANTUNAN YATIM PADA BULAN RAMADHAN, PENTINGKAH?

          Maraknya santunan yatim pada bulan Ramadhan, menggelitik rasa ingin tahu penulis tentang hal-hal yang terjadi dibalik santuna...