Maraknya santunan yatim pada bulan Ramadhan, menggelitik rasa ingin tahu
penulis tentang hal-hal yang terjadi dibalik santunan tersebut. Sebenarnya seberapa
pentingkah penyelenggaraan santunan yatim pada bulan Ramadhan. Mengapa berbagai
pihak seolah berlomba-lomba mengadakan santunan yatim di tempat mereka. Baik di
rumah, kantor, masjid, perusahaan, restoran, sekolahan, kampus, komunitas, para
alumni dari segala jenjang sekolah dan perguruan tinggi. Mengapa di luar bulan
ramadhan, santunan yatim tidak semeriah pada bulan Ramadhan.
Dalam Islam, anak yatim memiliki tempat yang sangat istimewa. Tidak
kurang dari 22 ayat membahas tentang anak yatim dalam Al-Qur’an. Dijelaskan
dalam QS al-Baqarah: 177, “Berbuat baik dan menyantuni anak yatim merupakan
amalan yang paling utama dan paling suci.” Surat lainnya yaitu QS Al-Insan:
8-22 mengungkapkan, “Perbuatan menyantuni anak yatim akan mendapat surga.”
Sedangkan pada QS. Al-Maun: 1-2, berfirman Allah SWT, “Tahukah kamu (orang)
yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.''
Ditegaskan pula dalam QS. Ad-Dhuha: 9, “Maka terhadap anak yatim janganlah
engkau berlaku sewenang-wenang.” Ancaman telah jelas sekali diberikan pada
orang-orang yang tidak berbuat baik pada anak yatim. Ayat lain yang juga
memberikan keterangan tentang anak yatim yaitu QS. An'am:152, QS. Al-Isra:34, QS.
Al-Fajr: 17, QS. Ad-Dhuha: 6 dan 9, QS. Al-Maun: 2, QS. Al-Insan: 8, QS. Al-Balad:
15, QS. Al-Kahfi: 82, QS. Al-Baqarah: 83, 215, dan 220,QS. An-Nisa': 2,3,6,8,10,36
dan 127, QS. Al-Anfal: 41, dan QS. Al-Hasyr: 7. Tidak hanya Al-Quran saja yang
banyak memberikan pembahasan tentang anak yatim. Dalam HR Bukhari dan Muslim,
apabila kita tidak menyantuni anak yatim maka kita akan mendapat dosa besar dan
masuk neraka. Begitu besarnya keutamaan serta pahala bagi orang yang menyantuni
anak yatim sampai-sampai imam Al-Bukhari rahimahullah mencantumkan dalam bab: Keutamaan Orang yang
Mengasuh Anak Yatim. Berikut kutipan haditsnya:
عَنْ سَهْلِ
بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم :
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ
وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia
berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang
yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari
tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan
keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]. Sungguh demikian besar perhatian
yang diberikan Islam pada anak yatim.
Jika di atas terungkap ayat-ayat serta hadits keutamaan menyantuni anak
yatim, maka berikutnya akan kita gali keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan.
Sedekah itu sendiri merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan dan disukai
Allah SWT. “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di
atas adalah orang yang memberi dan tangan yag di bawah adalah orang yang
meminta.”(HR. Bukhari no. 1429, Muslim no. 1033). Ibnu Hajar Al Haitami
mengumpulkan ratusan hadits dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa
Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah. Hadits-hadits tersebut mengenai keutamaan
bersedekah diantaranya: sedekah dapat menghapus dosa, orang yang bersedekah
akan mendapatkan naungan di hari akhir, sedekah memberi keberkahan pada harta,
Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, terdapat pintu surge yang
hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah, sedekah akan menjadi bukti
keimanan seseorang, sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur, sedekah dapat
mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli, orang yang bersedekah
merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia, pahala sedekah terus
berkembang, sedekah menjauhkan diri dari api neraka, bahkan kita boleh iri
kepada orang yang gemar bersedekah. Luar biasa keutamaan bersedekah saja
seperti itu. Bagaimana lagi bila sedekahnya dilakukan pada bulan Ramadhan? “Setiap
amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah
Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang
akan membalasnya.'” (HR. Muslim no.1151). Kemudian berdasarkan QS. Al-A’raf: 16
khusus amalan sedekah dilipatgandakan lagi sesuai kehendak Allah SWT. Lalu
ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan bersedekah. Berlipat-lipat
besarnya, berkali-kali keuntungannya sampai tak ada yang dapat menghitungnya
selain Allah SWT.
Setelah mengetahui keutamaan menyantuni anak yatim, keutamaan
sedekah, sedekah padabulan romadhon wajar saja bila banyak orang yang
berlomba-lomba bersedekah atau menyantuni anak yatim pada bulan romadhon. Masya
Allah bila itu semua dilakukan dengan penuh keikhlasan Insya Allah balasannya
adalah surganya A apaanllah subhanahu wa ta'ala.
Namun, dibalik segala kesemarakan itu, ada
hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh para dermawan dan panitia
penyelenggara santunan yatim. ini terjadi mungkin bukan karena kesengajaan
namun semata ketidaktahuan mereka disebabkan oleh kondisi mereka yang tidak
mengalami seperti yang dialami para anak yatim yang menjadi tamu undangan.
sesungguhnya ada beberapa kendala yang dialami para anak yatim adalah pertama
adalah jarak tempuh menuju ke tempat santunan. Memang umumnya santunan
diberikan kepada para yatim di sekitar tempat santunan. Namun tidak jarang yang
jauh-jauh pun mengundang yatim dari daerah yang jauh. Bila kita coba renungkan,
mereka itu yatim, apalagi bila statusnya juga dhuafa, perjalanan jauh mungkin
tidak ada ongkos. Haruskah mereka berhutang dulu untuk ongkos datang ke tempat
santunan? Hutang akan dibayar dengan uang yang didapat dari acara santunan yang
didatanginya? Atau bila dekat pun, banyak masjid-masjid yang lokasinya jauh ke dalam.
Meskipun termasuk masjid besar namun tidak ada angkutan umum yang sampai
kesana. Mau tidak mau, para yatim harus jalan jauh ataupun naik ojek. Iya jika yang diundang satu atau dua anak beserta
ibunya. Kalau sampai tiga orang anak atau lebih, masa iya harus naik beberapa
ojek. Berapa biaya yang harus dikeluarkan?
Biasanya pada bulan ramadhan, santunan diselenggarakan setelah shalat
Ashar berjamaah dan berbuka puasa di sana. Bagi yang sudah berusia tujuh tahun
ke atas mungkin tidak terlalu bermasalah. Kasihan yang masih balita. Penulis
beberapa kali melihat yatim-yatim cilik menangis karena bosan, letih, kegerahan
disebabkan oleh rangkaian acara yang terlalu lama dan berhimpitan duduknya. Setelah
itu, mereka masih harus berdiri berdesakan untuk antri mengambil paket
santunan. Belum selesai sampai situ. Pikirkan bagaimana mereka pulang ke rumah.
Pulangnya malam hari masih harus membawa paket santunan yang berat. Untuk
anak-anak yang agak besar sudah bisa bawa masing-masing. Yang masih kecil
terutama balita, ibu atau nenek mereka pastilah yang membawakan beberapa paket
santunan. Bayangkan beratnya bawa beberapa gembol paket sembako ditambah kondisi
jalanan yang gelap tentunya membahayakan keselamatan anak-anak yatim dan ibu
atau nenek mereka. Kondisi mereka pun dalam keadaan capek setelah seharian
berpuasa.
Apakah ini yang disebut memuliakan
anak yatim? Rasulullah SAW pun akan bersedih bila tahu hal ini. Kiranya perlu
dipertimbangkan lagi tata cara penyelenggaraan santunan yatim terutama yang
diadakan pada bulan Ramadhan, agar mendapatkan sebesar-besar keberkahan.
Bijaklah menggelar acara yang tujuannya mencari keberkahan dibalik kebahagiaan
para yatim. Aturlah waktunya agar tidak terlalu lama, sehingga mereka tidak
terlalu lelah dan sampai ke rumah sebelum gelap. Kita tahu dalam QS Al Falaq
disebutkan tentang kejahatan malam. Ditambah mereka tidak memiliki sosok ayah
yang dapat melindungi saat berjalan atau berkendara di malam hari. Buatlah
rencana pembagian yang baik sehingga mereka tidak harus antri berdesak-desakan.
Buya Yahya, seorang ulama yang merupakan pembina pondok pesantren Al
Bahjah, Cirebon, malah mengatakan akan lebih baik bila santunan yatim diantar
langsung ke rumah para penerima santunan. Justru itulah yang disebut memuliakan
anak yatim. Ya benar, seyogyanya kita memuliakan mereka bukan justru
menyusahkan. Selayaknya kita menyantuni bukan membebani. Sepatutnya kita tulus
mengasihi bukan untuk sensasi. Semoga rahmat Allah dicurahkan sederas-derasnya
bagi hamba-hamba-Nya yang giat mencari cara menyenangkan Allah dengan menghidangkan
kebahagiaan bagi para yatim yang memiliki keistimewaan di mata Allah SWT serta
Rasulullah SAW.
REFERENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar